Kamis, 02 Agustus 2012

Nikmat Allah Tak Sebanding Dengan Apapun Buka Puasa DPW Ormas NasDem


MENDAWAI, FATTALA – Mengawali ceramah yang disampaikan ustadz Syairi Abdullah pada buka puasa bersama Ormas NasDem Kalteng di Jalan Mendawai Lima langgar Hidayatul Muhajirin, kemarin (26/7). Ia mengajak umat Islam untuk merenungkan betapa luar biasa Allah memberikan nikmat kepada diri manusia yang itu tidak dapat diukur dengan apapun di dunia ini.

Apabila kita renungkan secara mendalam, ternyata memang banyak nikmat Allah yang telah kita terima dan gunakan dalam hidup ini. Demikian banyaknya sehingga kita tidak mampu menghitungnya,” jelas Syairi Abdullah.

Maka dari itu, tambah Syairi sudah sepantasnya sebagai insan yang dhaif kita memperbanyak syukur dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Pada dasarnya, semua bentuk syukur ditujukan kepada Allah. Namun, bukan berarti kita tidak boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara nikmat Allah.

Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah swt. Tutur Syairi, Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah melalui ucapan Alhamdulillah. Dan Ketiga, tambah Syairi, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Alloh pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat, menta'ati aturan Allah dalam segala aspek kehidupan.

Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Ibadah puasa mempunyai banyak hikmah baik dari segi rohaniah, jasmaniah dan lingkungan masyarakat. Dari segi rohaniah ia mampu menundukkan nafsu jahat yaitu naluri atau perasaan yang mendorongkan kepada kejahatan. Selain itu, tambah Syairi, mampu menguatkan pribadi kita, mempererat hubungan silaturrahmi dan membersihkan jiwa.  Puasa juga sebagai latihan rohaniah dimana setiap yang berpuasa wajib menahan diri dari pada nafsu makan minum, nafsu syahwat, mengontrol emosi dan menyakitkan orang lain seperti mencela, caci maki, mengumpat dan berkata kotor.” muy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

©2009 FATTALA online | by TNB