Minggu, 15 Juli 2012

Tari Selendang dan Tari Iruang Wundrung Sambut Wapres Pada Harkopnas


Temangung Tilung, Fattala – Dua tarian khas dayak Kalimantan Tengah, Tari Selendang dan Tari Iruang Wundrung bakal mendapat kehormatan untuk menyambut kedatangan Wakil Presiden Prof. Ir. Boediono, M.Ec beserta Ibu Herawati Boediono pada peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) yang ke-65 bertempat di arena kegiatan pameran Temanggung Tilung hari ini (12/7).

“Tari Selendang yang diperagakan oleh anak-anak usia 5 sampai 9 tahun yang berjumlah sepuluh orang ini, akan menyambut langsung Wakil Presiden Prof. Ir. Boediono, M.Ec beserta Ibu Herawati Boediono dari pintu masuk utama. Sedangkan untuk tarian Iruang Wundrung akan disajikan pada acara puncaknya, yaitu peluncuran logo koperasi yang telah diperbarui,” jelas Eka Noviana pembina tari dari sanggar seni budaya Balanga Tingang kota Palangka Raya ini.

Makna tari tersebut. Tutur Eka, merupakan ucapan selamat datang kepada tamu-tamu kehormatan, biasanya memang disajikan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan yang datang baik dari dalam maupun luar daerah.

“Kita merasa senang dan memiliki kebanggaan tersendiri karena dipercayakan untuk menampilkan tarian khas dayak Kalimantan Tengah ini dalam menyambut kedatangan bapak dan Ibu Wapres, orang nomor dua di Indonesia,” tambah Eka.

Tarian ini merupakan rampak selaras dua gerak tari yang disatukan yaitu Wadian Dadas dan Wadian Bawo dan kemudian disebut Tari Iruang Wandrung. Tarian Dadas dilakukan oleh penari wanita, sedangkan Gelang Bawo ditarikan oleh penari pria. Dengan iringan perpaduan musik tradisonal yang energik tarian ini pada jaman dulu berfungsi sebagai tarian untuk menghantar syukuran kepada Yang Maha Kuasa karena keberhasilan dalam seluruh aspek kehidupan Suku Dayak Kalimantan Tengah. Selain itu, tarian ini biasanya dibawakan di berbagai upacara ritual orang Dayak Ma’anyan, seperti upacara penyembuhan, pernikahan, penyambutan tamu dan tradisi tahun baru (waktu panen pertama). Janur kelapa yang menjadi asesoris penari digunakan sebagai symbol untuk mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu jalannya upacara.

Tarian ini merupakan cindera tari yang diangkat dari kelengkapan pakaian berupa selendang di kalangan kaum wanita Suku Dayak Kalimantan Tengah. Sama seperti tarian lainnya, tari ini juga telah mengalami pengembangan di beberapa bagian gerak dan atribut petari. Tarian ini dimainkan dengan lemah gemulai oleh penari putri sebagai gambaran sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan atas terlaksananya suatu hajatan besar di kalangan warga. muy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

©2009 FATTALA online | by TNB